Awalnya, ini hanya sebuah peran.
Pak Chandra tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah hanya karena diminta mengisi suara tokoh Tuhan Yesus dalam sebuah film tentang perjumpaan Yesus dan Zakheus dalam bahasa Hakka. Bahkan, ketika tim rekaman datang ke rumahnya malam itu, ia sedang dalam keadaan marah, terutama kepada istrinya yang terus terlibat dalam pelayanan penerjemahan.
Selama tiga hari sebelumnya, tim penerjemah yang sedang mengerjakan Injil Lukas dalam bahasa Hakka kesulitan menemukan pengisi suara yang tepat untuk tokoh Yesus. Tidak satu pun suara dianggap sesuai, baik dari sisi karakter, wibawa, maupun kedalaman emosi. Di tengah kebuntuan itu, Ibu Yuni dengan ragu mengusulkan nama suaminya sendiri.
Keraguan itu bukan tanpa alasan. Hubungan mereka sedang tidak baik. Hidup tanpa Kristus membuat suasana rumah sering dipenuhi pertengkaran, tidak ada kedamaian. Pak Chandra tidak senang kalau istrinya terlibat dalam penerjemahan, apalagi istrinya memang bukan orang yang percaya Kristus. Ia merasa semua itu membuat kondisi rumah tangganya semakin tidak baik-baik saja. Bahkan dalam mencari ketenangan hidup, ia juga sempat tertarik mempelajari ajaran lain melalui tayangan YouTube.

Ia menolak berkali-kali. Namun situasi memaksanya mencoba. Malam itu, dengan terpaksa dan hati yang enggan, ia mengikuti proses rekaman. Di luar dugaan, suaranya sangat cocok dengan karakter Yesus yang dibutuhkan. Akhirnya, bapak tiga anak ini pun terlibat dalam sulih suara film Yesus.
Awalnya semua terasa biasa. Ia hanya membaca naskah. Tetapi ketika sampai pada bagian di mana Yesus memanggil Zakheus, seorang yang dipandang berdosa untuk makan bersama-Nya, sesuatu mulai berubah.
Kata-kata itu tidak lagi terasa seperti dialog. Ia seperti mendengar panggilan itu ditujukan kepadanya. Ada kehangatan, penerimaan, dan kasih yang tidak menghakimi. Dalam momen itu, Pak Chandra seakan melihat dirinya sendiri, seseorang yang jauh, namun tetap dipanggil untuk dekat.
Rekaman selesai, tetapi pergumulan di dalam hatinya baru saja dimulai. Sesampainya di rumah, ia memanggil istri dan anak-anaknya. Dengan suara bergetar, ia meminta maaf atas sikap dan kata-katanya selama ini. Anak-anaknya terdiam. Salah satu dari mereka berkata pelan bahwa sudah sangat lama mereka tidak berbicara seperti itu.
Malam itu menjadi titik balik. Peran yang awalnya hanya akting justru menjadi jalan perjumpaan pribadi. Pak Chandra tidak lagi sama. Ia mulai mendukung pelayanan istrinya, bahkan terlibat langsung dalam tim penerjemahan. Kini, mereka melayani bersama.
Kisah Pak Chandra menjadi bukti bahwa Firman Tuhan tidak harus menunggu selesai diterjemahkan untuk bekerja. Bahkan melalui sebuah peran, Tuhan sanggup menjangkau hati dan memulihkan sebuah keluarga.