Sakorido bukanlah tempat yang mudah dijangkau.

Sakorido adalah salah satu dari tiga kampung yang menjadi tempat tinggal masyarakat penutur bahasa Busami, bersama Kamanap dan Kaonda. Ketiganya berada di wilayah Serui, dengan akses yang tidak mudah. Dari kota, perjalanan menuju Kamanap memakan waktu lebih dari satu jam dengan jaringan komunikasi yang terbatas. Sementara itu, Sakorido dan Kaonda berada lebih jauh lagi. Di Sakorido, listrik belum tersedia dan sinyal telepon hampir tidak ada. Ketika persediaan bahan makanan habis, warga harus menyeberang ke pulau lain untuk membelinya. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari berkebun dan melaut. 

Bagi banyak orang, kampung-kampung itu mungkin hanya nama yang asing di sebuah peta. Namun bagi Ani Hamang, tempat-tempat itulah yang mengubah cara pandangnya tentang panggilan Tuhan.

Beberapa tahun sebelumnya, Ani sudah pernah melayani di Papua. Ketika masa pelayanannya selesai, ia pulang dengan membawa rencana-rencana baru. Ia berharap dapat tinggal di Jakarta, bekerja, lalu melanjutkan kuliah. Semuanya tampak masuk akal. Sampai akhirnya ia bergabung dengan Kartidaya, ia mengira harapan itu akan terwujud. Alih-alih tetap di Jakarta, ia justru diminta kembali ke Papua. Kali ini ke Serui khususnya ke masyarakat penutur bahasa Busami.

Ani tidak menolak, namun terus bertanya "Mengapa harus kembali? Bukankah Tuhan juga tahu rencana-rencanaku?" Pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban. Yang ia lakukan hanyalah berangkat ke Serui.

Serui bukan tempat yang pernah dipikirkannya. Ia bahkan tidak pernah mendengar nama kampung-kampung seperti Kamanap, Sakorido, atau Kaonda sebelum menerima penugasan itu. Setiap kali berangkat mendampingi tim penerjemahan Alkitab, doa Ani selalu sama "Tuhan, sertai saya." Sebab sebagai perempuan, ada banyak hal yang membuatnya gentar. Ia tinggal jauh dari keluarga. Pergi bersama tim yang sebagian besar anggotanya laki-laki. Masuk ke tempat-tempat yang sama sekali asing baginya.

Perlahan, rasa takut itu digantikan oleh sesuatu yang lain. Ia menemukan keluarga. Bukan keluarga sedarah. Melainkan masyarakat penutur Busami.

Di sana, banyak hal masih sangat sederhana, termasuk fasilitas sanitasi. Mengetahui kondisi itu dapat menyulitkan Ani, beberapa warga segera membuatkan sebuah jamban darurat. "Mereka cepat sekali membantu apa pun yang saya perlukan, saya merasa diterima," kenangnya.

Ada satu hal lagi yang menguatkan saya.

Hari itu kami sedang melakukan peninjauan hasil uji coba penerjemahan Alkitab di kampung Sakorindo. Seorang bapak datang dari kampung lain untuk ikut menjadi peninjau. Namanya Bapak Lodwik. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta berdoa. Doa dipimpin oleh Bapak Dorteis dalam bahasa Busami. Saya tidak memahami setiap kalimat yang diucapkan. Namun di tengah doa, saya melihat Bapak Lodwik menangis. Air matanya terus mengalir hingga doa selesai. Kegiatan hari itu pun berjalan seperti biasa.

Baru setelah semuanya selesai, saya menghampiri Bapak Lodwik. Apa yang membuat Bapak menangis? Jawaban itu tidak pernah saya lupakan. Bapak Lodwik menjelaskan bahwa di dalam doa tadi, Bapak Dorteis mengucap syukur kepada Allah karena Tuhan tidak melupakan suku Busami. Ia bersyukur karena Allah telah mengirim seseorang dari tempat yang jauh. Seseorang yang sebelumnya tidak mengenal mereka. Seseorang yang datang untuk membantu mereka memiliki firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri. Itulah yang membuat saya menangis, katanya.

Saya ikut terdiam. Selama ini saya berusaha memahami mengapa Tuhan membawa saya kembali ke Papua. Ternyata, di kampung kecil ini, ada orang-orang yang memandang kehadiran saya dengan cara yang sama sekali berbeda. Saya terharu, penuh sukacita, senang karena mereka memandang kehadiran saya sebagai tanda kasih Tuhan untuk suku mereka.

Hari itu, pertanyaannya tentang mengapa Busami tidak langsung terjawab seluruhnya. Tetapi Tuhan memberinya sebuah petunjuk, setiap orang memang memiliki "padang gurun" yang harus dilalui. Tempat yang tidak dipilih. Keadaan yang tidak direncanakan. Rencana yang harus ditunda. Bukan untuk menghukum. Melainkan untuk membentuk. "Saya percaya Tuhan sedang mempersiapkan saya untuk sesuatu yang belum saya mengerti. Saya tidak tahu apa itu. Tetapi saya tahu Tuhan tidak salah menempatkan saya. Tuhan punya banyak cara membawa kita mengerti isi hati dan misi-Nya. Tidak selalu melalui hal-hal besar. Kadang justru lewat hal-hal sederhana, asal kita peka mendengar suara-Nya." ujar Ani. 

Mimpi untuk kuliah masih ada. Harapan tentang masa depan tidak hilang. Kini Ani tidak lagi melihat penempatannya di masyarakat Busami sebagai kebetulan. Ia percaya Tuhanlah yang menggerakkan langkahnya.

Sementara itu, Bapak Lodwik terus datang mengikuti setiap proses penerjemahan. Ia bahkan bergabung menjadi anggota tim dan selalu bersemangat ketika mengerjakan konsep pertama. Bagi Ani, setiap kali melihat semangat itu, ia kembali teringat satu ayat yang kini terasa begitu nyata "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik." (Roma 10:15)

Di tempat yang tidak pernah ia rencanakan untuk datang, Tuhan sedang memakai kehadirannya untuk menjadi jawaban atas doa sebuah suku yang selama ini menantikan firman-Nya dalam bahasa hati mereka.