Bagaimana kami bisa menyelesaikan pekerjaan ini kalau orang yang bekerja bersama kami masih sedikit? Bagaimana kami bisa terus bekerja dengan teknologi jika listrik saja tidak tersedia? Bagaimana mungkin pekerjaan penerjemahan ini terus berjalan jika kebutuhan-kebutuhan yang mendukungnya belum terpenuhi? Dan kalau semua ini adalah pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kami, mengapa jalannya terasa begitu terbatas?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam pikiran saya, seolah tidak memberi ruang untuk berhenti bertanya. Semakin melihat keadaan di lapangan, semakin saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau peduli dengan pekerjaan ini? Apakah Engkau akan menolong kami menyelesaikannya?” Saya datang untuk mendampingi tim agar pekerjaan penerjemahan Alkitab bagi masyarakat Munggui terus berjalan. Namun, di lapangan, saya dan tim justru berhadapan dengan begitu banyak keterbatasan. Ada kebutuhan yang belum terpenuhi, bahkan hal-hal yang sangat mendasar pun masih belum tersedia. Listrik hampir tidak pernah menyala, sementara sinyal komunikasi pun hanya dapat diakses ketika perangkat pendukung tertentu diaktifkan. Tanpa perangkat tersebut, akses komunikasi praktis tidak tersedia. Saya tidak tahu dari mana harus mencari bantuan atau bagaimana semua ini bisa teratasi. Meski demikian, pekerjaan tetap harus berjalan. Kami terus mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan, mencari jalan di tengah keterbatasan, berdoa, dan belajar mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan.

Dalam proses itulah saya mulai melihat pertolongan Tuhan. Dua orang pemuda datang dan bersedia bergabung dalam pekerjaan penerjemahan. Melalui Bapak Kepala Desa, kami juga mendapatkan genset yang dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan kami. Kehadiran dua orang pemuda itu memberi tambahan tenaga bagi tim, sementara genset membantu kami mengatasi kendala listrik. Keduanya menjadi pertolongan nyata bagi pekerjaan yang sedang kami kerjakan. "Dari mana kami akan mendapat semua ini?" Pertanyaan ini kemudian menjadi suatu kesadaran bahwa Tuhan telah menyediakan semuanya pada tempatnya, jauh sebelum kami memintanya. Bukan berarti perjalanan ini kemudian menjadi tanpa kesulitan, tetapi saya mulai melihat bahwa di tengah keterbatasan kami, Tuhan tetap bekerja dan membuka jalan melalui orang-orang di sekitar kami.

Kami tetap memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan setia, tetapi kami tidak harus mengandalkan kemampuan sendiri seolah-olah semuanya bergantung pada kami. Penerjemahan Alkitab bagi masyarakat Munggui adalah pekerjaan Tuhan, dan kami bersyukur diberi kesempatan untuk mengambil bagian di dalamnya. Kami mungkin tidak selalu tahu apa yang kami perlukan di langkah berikutnya atau bagaimana kebutuhan itu akan terpenuhi. Namun, satu hal yang semakin kami yakini: Tuhan yang memanggil kami untuk mengerjakan pekerjaan-Nya juga yang menyertai dan memeliharanya.