Selama dua bulan, para peserta Akademi Kartidaya menjalani praktik lapangan di gugus yang ada di Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Mereka terlibat dalam kerja interval di kampung-kampung penutur, mengikuti lokakarya, dan belajar mendampingi proses penerjemahan bersama tim bahasa.
Di lapangan, pelajaran yang mereka terima di kelas bertemu dengan kenyataan yang tidak selalu mudah. Mereka belajar memahami budaya dan cara pandang komunitas, menyimak percakapan, serta mengikuti proses penerjemahan yang menuntut ketelitian di setiap tahap. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa penerjemahan Alkitab bukan sekadar pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan Firman Tuhan disampaikan dengan setia dalam bahasa yang dipahami oleh komunitas.
Setiap peserta membawa pulang pelajaran yang berbeda. Ada yang diingatkan untuk mengerjakan setiap tahap dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Ada yang semakin mengenali ladang pelayanan melalui percakapan dan kebersamaan dengan tim. Ada pula yang justru menyadari bahwa dirinya masih perlu untuk dipementori. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses mereka belajar melayani.
“Melihat proses terjemahan ayat demi ayat mengingatkan saya bahwa mendampingi penerjemahan Alkitab tidak boleh dilakukan sembarangan. Setiap tahap perlu dijalani dengan teliti dan hati yang menghormati Tuhan.”
— Armin, Calon Fasilitator
“Saya bersyukur diterima dengan baik oleh komunitas setempat dan diberi kesempatan untuk melayani. Pengalaman ini mengingatkan saya untuk terus belajar, rendah hati, dan setia dalam tanggung jawab yang Tuhan percayakan.”
— Engse, Calon Fasilitator
“Cerita dari percakapan maupun proses dalam pertemuan tim menjadi pemantik bagi saya untuk semakin mengenali ladang pelayanan penerjemahan.”
— Lisda, Calon Fasilitator
“Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang saya miliki, saya belajar melakukan berbagai pekerjaan sederhana yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan menjadi bagian dari pelayanan saya. Saya menyadari bahwa dalam melayani Tuhan, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil. Setiap tugas, mulai dari menyiapkan kopi hingga mengurus administrasi, dapat menjadi pelayanan yang bermakna ketika dilakukan dengan hati yang benar.”
— Iston, Calon Admin
Praktik lapangan tidak membuat semua pertanyaan langsung terjawab. Sebaliknya, pengalaman ini menolong para calon fasilitator dan admin untuk melihat lebih jelas apa yang perlu mereka pelajari dan tanggung jawab yang sedang mereka persiapkan untuk emban. Mereka belajar bahwa pekerjaan ini membutuhkan lebih dari keterampilan teknis: ada kesediaan untuk terus belajar, menghargai komunitas, bekerja dengan teliti, dan bergantung kepada Tuhan.
Di tengah perbedaan pengalaman itu, tujuan pelayanannya tetap sama: supaya kasih dan pengampunan Yesus diberitakan kepada segala bangsa, termasuk melalui Firman-Nya dalam bahasa yang dimengerti setiap komunitas.