Orak-orak yang dah pecayak nyan besatu dan slalu bekumpol dan smua rota mpuk dak nyadi mpuk besama. Dari dak nyan slalu busik yang nyual rota dak lalu magi ya ke orak-orak meseket dan yang sosak-solak. Dak slalu bekumpol dan bedoa tiap ari di langkau Allah dan dak nyogak berota ke langkau-langkau dengan mamat aset. Kisah Para Rasul 2:44-46 (Bahasa Keninjal, Kalimantan Barat)

Untuk pertama kalinya, saya membaca Alkitab dalam bahasa Keninjal—bahasa yang telah saya kenal sejak kecil. Penerjemahan Alkitab sebenarnya sudah lama dilakukan di desa kami, tetapi baru kali ini saya terlibat secara langsung dan mendengar Firman Tuhan dalam bahasa saya sendiri. Pada saat itu, Firman tidak lagi terasa jauh. Ia menjadi dekat—berbicara langsung ke dalam hati saya.
Bagian yang paling menyentuh saya adalah Kisah Para Rasul 2:41–46, yang menggambarkan bagaimana orang percaya hidup sebagai jemaat Tuhan. Mereka berkumpul, saling berbagi, dan hidup tanpa pertengkaran. Cara hidup mereka menjadi kesaksian nyata yang membawa orang lain kepada pertobatan. Mendengar bagian ini dalam bahasa saya sendiri menolong saya menyadari bahwa iman bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi tentang bagaimana kita hidup setiap hari.
Firman Tuhan menjadi teguran sekaligus pengingat bagi saya. Umat Tuhan dipanggil untuk menjadi berkat, bukan sumber penghakiman. Ketika Firman dipahami dalam bahasa hati, ia tidak hanya memberi pengertian—tetapi mengubahkan hidup, dimulai dari diri kita sendiri.