Pernahkah kita membayangkan bahwa satu kata dalam Alkitab dapat dipahami dengan arti yang sama sekali berbeda?
Bagi sebagian masyarakat Marau, kata "nazar" selama ini dipahami sebagai sesuatu yang berkaitan dengan keinginan agar hal buruk terjadi kepada orang lain. Ketika seseorang merasa sakit hati, nazar dapat digunakan sebagai sarana untuk mendoakan orang tersebut agar mengalami sesuatu yang tidak baik. Dengan pemahaman seperti ini, nazar menjadi identik dengan menyumpahi, mengutuk, atau mencelakakan orang lain.
Namun, apakah memang demikian makna nazar dalam Alkitab?
Dalam Alkitab, nazar justru merupakan janji yang diucapkan seeorang kepada Tuhan dan harus dipenuhi ketika permohonannya dijawab oleh-Nya. Nazar adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan, bukan sarana untuk mengutuk atau mencelakakan sesama. Perbedaan pemahaman inilah yang kemudian muncul dalam proses pemeriksaan terjemahan Alkitab bahasa Marau.
Satu Ayat Membuka Sebuah Persoalan
Saat tim penerjemahan bersama konsultan memeriksa Lukas 6:27-28, perhatian mereka tertuju pada perintah Yesus untuk mengasihi dan memberkati orang yang berbuat jahat kepada mereka. Dalam terjemahan bebas bahasa Marau, salah satu bagian ayat tersebut berbunyi kurang lebih "berkati orang yang mau kamu mati."
Ayat ini kemudian menjadi bahan diskusi. Tim menghubungkannya dengan pemahaman masyarakat Marau mengenai orang-orang yang selama ini menjadi sasaran "nazar". Bagi mereka tidak lumrah memberkati orang yang jahat terhadap mereka. Justru jika seseorang jahat, maka orang itu harus "dinazarkan" agar orang tersebut mengalami hal buruk dalam hidupnya.
Di sinilah konsultan yang mendengar diskusi tersebut membantu tim melihat dari kacamata Alkitab. Tim mendapatkan penjelasan bahwa nazar tidak memiliki makna yang jahat. Nazar tidak seharusnya digunakan untuk tujuan buruk, karena makna sebenarnya dari kata tersebut justru berkaitan dengan janji penyerahan diri kepada Tuhan. Diskusi sederhana tentang satu ayat akhirnya membuka persoalan yang jauh lebih besar: ternyata ada sebuah konsep dalam Alkitab yang selama ini dipahami secara keliru.
Makna yang Menjadi Keliru
Bagi tim, temuan ini menjadi sebuah pelajaran penting.

Sebuah konsep yang baik dalam Alkitab dapat mengalami pergeseran makna ketika dipahami dan diwariskan dari generasi ke generasi tanpa kembali melihat apa yang sebenarnya dikatakan oleh Kitab Suci.
Pemahaman tentang nazar yang ada di tengah masyarakat Marau ternyata tidak serta-merta berasal dari apa yang dimaksudkan Alkitab. Konsep tersebut dapat terbentuk dari pemahaman yang diwariskan secara turun-temurun, dari orang tua, dari kakek nenek yang terlebih dahulu menjadi orang Kristen, dan akhirnya diterima sebagai sesuatu yang benar.
Di sinilah penerjemahan Alkitab menjadi lebih dari sekadar mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan juga menjadi jalan untuk monolong sebuah masyarakat mengenal kembali makna firman Tuhan dengan benar.
Bukankah Ini Juga Tentang Kemerdekaan?
Bulan Agustus mengingatkan kita akan kemerdekaan Indonesia. Namun, kisah dari Marau mengajak kita melihat kemerdekaan dari sudut yang lain. Ada kebebasan yang bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang dibebaskan dari pemahaman yang keliru.
Bagaimana seseorang dapat hidup sesuai kehendak Tuhan apabila ia belum memahami apa yang sebenarnya Tuhan katakan? Bagaimana seseorang dapat menjalankan firman Tuhan apabila sebuah kata dalam firman itu sendiri dipahami dengan arti yang berlawanan? Karena itu, kemerdekaan rohani juga berarti ketika seseorang semakin dibebaskan dari kekeliruan dan semakin mengenal kebenaran.
Bukan berarti masyarakat Marau tidak mengenal Tuhan. Justru mereka telah mengenal dan mendengar firman-Nya. Namun, kisah ini menunjukkan bahwa mendengar atau membaca firman Tuhan belum berarti selalu memahami maksudnya dengan benar. Dan itulah sebabnya penerjemahan Alkitab begitu penting.
Supaya Setiap Kata Membawa Kita Semakin Dekat Kepada Kebenaran
Melalui proses penerjemahan dan pemeriksaan yang dilakukan bersama konsultan, tim penerjemah Marau menemukan bahwa ada pemahaman yang perlu diluruskan. Bukan hanya dalam terjemahan di atas kertas, tetapi juga dalam pemahaman masyarakat.
Harapannya ketika firman Tuhan tersedia dalam bahasa yang paling dipahami, masyarakat Marau bukan hanya dapat membaca atau mendengarnya, tetapi juga mengerti apa yang Tuhan kehendaki bagi mereka.
Satu kata mungkin terlihat kecil.
Tetapi satu kata yang salah dipahami dapat membentuk sebuah pemahaman yang salah. Sebaliknya, satu kata yang dipahami dengan benar dapat membuka jalan bagi seseorang untuk mengenal kebenaran dengan lebih utuh.
Hal inilah yang terus diperjuangkan melalui penerjemahan Alkitab: agar firman Tuhan tidak hanya sampai dalam bahasa mereka, tetapi juga dipahamai sebagaimana yang Tuhan maksudkan.
Kiranya masyarakat Marau semakin menikmati kebebasan sejati, kebebasan untuk mengenal kebenaran, memahami firman Tuhan, dan hidup di dalam kehendak-Nya.
Karena terkadang, kemerdekaan dimulai ketika kita akhirnya memahami apa yang selama ini kita dengar dengan cara yang benar.