Di balik setiap ayat yang diterjemahkan, ada proses yang sering tidak terlihat. Di Gugus Robeno, capacity building dihadirkan sebagai ruang refleksi yang meneguhkan kembali panggilan para penerjemah bahwa penerjemahan Alkitab bukan hanya pekerjaan teknis, melainkan pelayanan yang menuntut ketekunan, kerendahan hati, dan keselarasan hati. Melalui perenungan atas 1 Korintus 12:7, 12–27, para penerjemah merenungkan kembali identitas mereka sebagai bagian dari satu tubuh.
Setiap orang memiliki peran dan kapasitas yang berbeda, ada yang kuat dalam analisis teks, ada yang teliti dalam bahasa, ada yang peka terhadap konteks budaya. Keberbedaan itu bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk saling melengkapi.
Dalam diskusi yang difasilitasi oleh tim Human Capital Kartidaya, tiga hal ditekankan. Pertama, moment–kesadaran bahwa pelayanan dilakukan dalam konteks nyata: dengan keterbatasan waktu, tekanan target, dinamika relasi tim, dan tantangan budaya. Kedua, passion–komitmen untuk tetap setia melakukan yang benar dan baik di hadapan Tuhan, sekalipun prosesnya panjang dan melelahkan. Ketiga, kesadaran diri–pengenalan akan peran dan batas diri, agar setiap orang dapat berkontribusi secara sehat tanpa melampaui, mendominasi, atau meremehkan yang lain.
Ruang ini menjadi pengingat bahwa terjemahan yang baik lahir dari tim yang sehat. Ketika para penerjemah bekerja dengan hati yang selaras, saling menghormati, dan berfokus pada tujuan yang sama, maka yang dibangun bukan hanya naskah terjemahan, tetapi juga komunitas pelayanan yang kuat sebagai satu Tubuh Kristus.
Karena di balik setiap proyek bahasa, Allah tidak hanya membentuk teks. Ia juga membentuk para pelayannya.