Di akhir Maret, Kartidaya menjalankan satu tahap penting yang sering tidak terlihat, namun menentukan arah seluruh pelayanan ke depan: Lokakarya Taste of Translation (ToT) di Nabire dan Teluk Wondama. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses survei bahasa, sebuah langkah awal untuk menilai apakah suatu bahasa masih hidup, digunakan secara aktif, dan memiliki kesiapan komunitas untuk terlibat dalam penerjemahan.
Melalui lokakarya ini, lima komunitas bahasa diajak “mencicipi” prosesnya. Para peserta diperkenalkan pada prinsip dasar, alur kerja, serta praktik sederhana penerjemahan, sambil tim melakukan pengamatan lebih dalam: bagaimana respons peserta, sejauh mana bahasa digunakan dalam keseharian, serta kesiapan komunitas untuk berjalan bersama dalam proses jangka panjang.
Pendekatan ini menjadi penting, karena penerjemahan Alkitab bukan sekadar dimulai dari kebutuhan, tetapi dari kesiapan. Taste of Translation menjadi ruang untuk mendengar, menguji, sekaligus memastikan bahwa langkah selanjutnya jika diambil, berdiri di atas dasar yang tepat: bahasa yang hidup dan komunitas yang terlibat.
Dari proses ini, tim tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga membangun relasi dan membuka kemungkinan. Semuanya berangkat dari satu hal yang sama: memastikan bahwa setiap langkah penerjemahan sungguh menjawab kebutuhan nyata, dan dapat berakar dalam kehidupan komunitas itu sendiri.