Dalam pelayanan penerjemahan Alkitab, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan hati yang membutuhkan sistem penulisan yang jelas dan konsisten. Tanpa ortografi yang baik, pesan dapat menimbulkan kebingungan, sehingga pengembangannya menjadi sangat penting.
Karena itu, pada 9–17 Maret 2026 di Sorong, para fasilitator dari Gugus Raja Ampat dan Serui berkumpul bersama pengajar untuk merumuskan sistem ortografi sebagai dasar penerjemahan, agar Firman Tuhan dapat disampaikan secara jelas, akurat, dan mudah dipahami.
Pendekatan partisipatif ini menegaskan bahwa misi bukan membawa dari luar, melainkan menata apa yang telah Tuhan tanamkan dalam setiap bahasa dan budaya, dengan menjaga setiap bunyi dan pola bahasa secara setia.
Hasil yang dicapai dalam lokakarya ini antara lain:
- Tersusunnya buku usulan sistem penulisan untuk 6 bahasa dalam edisi percobaan, beserta rencana sosialisasi kepada masyarakat guna memperoleh masukan dan penyempurnaan lebih lanjut.
- Para fasilitator kembali memperdalam penggunaan Paratext sebagai alat pendukung dalam proses penerjemahan Alkitab.
Kegiatan ini menjadi momen penting untuk memperkuat kolaborasi pelayanan antara Kartidaya dan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, yang turut hadir dan membuka rangkaian kegiatan bersama pimpinan Kartidaya (CEO) dan Sekretaris Umum GKITP sebagai wujud komitmen bersama dalam mendukung penerjemahan Alkitab. Kolaborasi ini menegaskan bahwa pelayanan ini bukan dilakukan sendiri, melainkan merupakan karya bersama antara lembaga, gereja, dan para fasilitator bahasa, dengan satu kerinduan agar Firman Tuhan hadir semakin dekat, akrab, dan hidup dalam bahasa hati setiap suku.