Saya Meylissa, berasal dari tempat yang serba cepat. Semua tersedia. Informasi mudah diakses. Listrik hampir tidak pernah menjadi pertanyaan. Hidup berjalan dengan ritme yang jelas dan padat. Sebagai lulusan Sekolah Tinggi Teologi, saya merasa cukup siap untuk melayani. Namun ketika saya tiba di Patoyan, saya sadar saya sedang memasuki dunia yang berbeda.

Rumah-rumah di sini berdiri di atas air, terbuat dari kayu. Di bawah lantainya, air bergerak pelan mengikuti arus. Jika seseorang berbicara agak keras, suaranya dapat terdengar hingga ke rumah sebelah. Angin dan suara berjalan tanpa banyak penghalang.

Saya datang untuk mendampingi proses penerjemahan Alkitab. Tetapi saat itu saya sendiri belum benar-benar mengerti apa artinya menerjemahkan Alkitab. Saya pikir itu sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Ternyata tidak sesederhana itu.

Di Patoyan, saya terlibat dalam proses Oral Bible Translation bahasa setempat. Setiap cerita direkam secara lisan. Rekaman itu diputar kembali kepada para penutur asli. Jika ada bagian yang kurang tepat, kami membahasnya ulang. Satu istilah bisa memiliki beberapa makna. Satu kalimat bisa diperbaiki berkali-kali sampai terdengar alami dan tetap setia pada pesan aslinya.

Sebagai fasilitator yang bukan penutur asli, saya belajar untuk lebih banyak mendengar. Diskusi bisa berlangsung panjang. Perbedaan pendapat muncul. Ada masa saya merasa tidak percaya diri. Tetapi di situlah saya belajar bahwa menjaga makna jauh lebih penting daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan.

Suatu sore, saya memutar rekaman kisah Maria dan Marta melalui speaker kecil di teras rumah kayu tempat saya tinggal. Saya pikir tidak ada yang mendengarkan karena biasanya pada jam itu orang-orang pergi berkebun. Kampung terasa sunyi. Namun dengan rumah-rumah yang berdiri di atas air, suara berjalan lebih jauh dari yang saya kira.

Pada saat yang sama, seorang ibu datang menghampiri saya.

“Boleh saya minta ceritanya?” tanyanya. Saya agak terkejut. Ia bukan orang percaya. Ia jarang terlibat dalam kegiatan rohani. Saat itu saya baru menyadari bahwa mungkin ia mendengar rekaman yang saya putar. Saya pun memberikannya rekaman itu.

Beberapa hari kemudian ia kembali. “Saya sangat diberkati oleh cerita tentang Tuhan. Ini bahasa saya. Pesannya sampai kepada saya. Selama ini saya merasa seperti Marta, sibuk, pusing, urus ini itu, seolah hidup hanya tentang pekerjaan yang tidak pernah selesai. Saya pikir memang begitu hidup saya. Saya tidak pernah merasa punya pilihan.”

Ia berhenti sejenak. “Sekarang saya mengerti. Saya sadar… saya sebenarnya punya pilihan. Saya tidak mau terus hidup hanya dengan sibuk dan cemas. Saya tidak mau hanya berlari dari satu hal ke hal lain. Saya bisa memilih untuk berhenti sejenak. Saya mau seperti Maria. Duduk diam. Mendengar. Mengerti. Saya mau punya pilihan atas hidup saya.”

Saya tidak banyak berkata-kata saat itu. Saya hanya menyadari bahwa cerita itu telah bekerja lebih dulu, bahkan sebelum saya sempat menjelaskan apa pun. Di momen itu saya mengerti bahwa pekerjaan ini bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata. Ketika Firman didengar dalam bahasa yang paling dekat dengan seseorang, ia tidak lagi terasa jauh. Ia berbicara langsung ke ruang yang paling pribadi.

Dua tahun proses ini menghasilkan 79 cerita dari Injil Lukas yang kini didedikasikan bagi para penutur di Patoyan. Bagi saya, perjalanan ini bukan tentang meninggalkan kehidupan yang serba cepat. Ini tentang memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memahami Firman Tuhan tanpa terhalang bahasa.

Karena ketika Firman didengar dalam bahasa hati, ia tidak hanya dimengerti. Ia memberi seseorang ruang untuk memilih. Dan pilihan yang lahir dalam keheningan itu, diam-diam mengubah hidupnya.