Sepulang dari lokakarya, tim tidak hanya membawa pulang catatan dan rencana, tetapi juga kerinduan yang Tuhan kerjakan di hati mereka. Kerinduan untuk menanggapi apa yang telah Tuhan nyatakan, bukan dengan langkah besar, melainkan melalui ketaatan yang sederhana. Dari sanalah, bersama gereja lokal di Marau, Papua, lahir Aksi 5 Menit, sebuah ruang singkat di akhir ibadah yang memberi kesempatan bagi jemaat untuk mengambil bagian dalam pelayanan penerjemahan Alkitab bahasa Marau.

Aksi 5 Menit bukan sekadar ajakan memberi, melainkan mempercayakan harapan kepada Tuhan bahwa Firman-Nya layak hadir dan hidup dalam bahasa ibu mereka sendiri. Melalui tindakan sederhana ini, jemaat turut mengambil bagian agar Firman tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diwariskan kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Apa yang terkumpul tidak besar jika dihitung. Namun cukup untuk menemani hari-hari kerja tim. Makanan disiapkan, dapur kembali berfungsi, dan pekerjaan dapat dilanjutkan dengan tenang. Hal-hal kecil ini menjadi bagian dari proses yang jarang terlihat, tetapi menopang langkah yang sedang ditempuh.

Bagi orang Marau, penantian akan Firman Tuhan dalam bahasa ibu mereka telah berlangsung hampir satu abad. Karena itu, Aksi 5 Menit tidak berdiri sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai bagian dari perjalanan iman yang panjang. Melalui langkah sederhana ini, hadir keyakinan bahwa Tuhan tidak melupakan bangsa ini dan terus bekerja menjaga identitas serta harapan mereka dari generasi ke generasi. Kartidaya bersyukur dapat berjalan bersama jemaat, gereja lokal, dan para mitra pendukung dalam proses ini. Setiap langkah kecil, setiap pemberian yang dilakukan dengan iman, menjadi bagian dari karya Tuhan yang lebih besar: menghadirkan Firman yang dapat dibaca, dipahami, dan diwariskan dalam bahasa hati orang Marau.