“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
—Filipi 1:6
JOU SUBA VE MANSEREN! PUJIAN BAGIMU, TUHAN!
Ketika pernyataan peluncuran hasil penerjemahan Alkitab dibacakan, dentuman tifa bergema berkali-kali, disusul seruan sukacita yang memenuhi ruangan di GKI Jemaat Elohim Snerbo, Biak, pada 19 Juli 2026, yang dirayakan sesungguhnya bukan sekadar selesainya sebuah proyek penerjemahan. Momen ini menjadi kesaksian bahwa Allah terus menggenapi misi-Nya, menghadirkan firman dalam bahasa yang dipahami oleh setiap suku.
Melalui pelayanan Gugus Kuri Pasai, firman Tuhan kini hadir dalam enam bahasa, Biak, Ansus, Ambai, Waropen, Wondama, dan Yawa-Unat. Di balik setiap kata yang diterjemahkan tersimpan doa, ketekunan, dan kolaborasi banyak orang yang mengambil bagian dalam karya Allah.
Perjalanan ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Ada tahun-tahun yang dipenuhi doa, pembelajaran bahasa, perjalanan ke kampung-kampung, diskusi tanpa henti, pengorbanan, serta kesetiaan gereja, para penerjemah, fasilitator, mitra, dan para pendoa. Di balik setiap ayat yang diterjemahkan, tersimpan kisah tentang Allah yang setia memimpin umat-Nya menyelesaikan apa yang telah Ia mulai.
Namun sesungguhnya, penerjemahan bukanlah garis akhir. Firman yang telah hadir dalam bahasa hati dipanggil untuk hidup di dalam hati. Ketika Alkitab dibaca oleh seorang anak dalam bahasa ibunya, ketika sebuah keluarga merenungkan firman dalam bahasa yang mereka pahami sejak kecil, atau ketika sebuah gereja mengajarkan Injil dengan kata-kata yang dekat dengan kehidupan jemaatnya, saat itulah tujuan penerjemahan mulai digenapi. Firman Allah tidak hanya dimengerti, tetapi juga mengubahkan.
Peluncuran ini menjadi sebuah Ebenezer, sebuah batu peringatan bahwa “sampai di sini TUHAN telah menolong kita.” Namun batu peringatan selalu menghadap ke depan. Masih ada banyak komunitas bahasa yang menantikan firman dalam bahasa mereka. Masih ada banyak hati yang rindu mendengar Allah berbicara dengan bahasa yang paling dekat dengan kehidupan mereka.
Kiranya sukacita dari Snerbo tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi undangan bagi Gereja untuk terus melangkah bersama dalam misi Allah. Sebab ketika Allah berbicara dalam bahasa hati, bukan hanya kata-kata yang diterjemahkan, melainkan hidup yang dipulihkan, iman yang diteguhkan, dan pengharapan yang dilahirkan bagi setiap bangsa.