Tidak semua perjalanan dimulai dengan sukacita seperti di GKII Ora Et Labora Minjul, Kalimantan Barat.

Di Raja Ampat, ketika tim hendak melaksanakan lokakarya di Gereja Talitakumi Folley, mereka justru dihadapkan pada sebuah kenyataan yang cukup berat. Pihak gereja masih ragu untuk terlibat. Keraguan itu sangat dapat dimengerti. Saat itu jemaat sedang memusatkan perhatian pada pembangunan gedung gereja baru sekaligus mempersiapkan peresmian. Di tengah begitu banyak tanggung jawab, kehadiran sebuah lokakarya terasa seperti tambahan beban yang sulit dipenuhi.

Namun Tuhan sering kali bekerja melalui cara yang sederhana. Di tengah percakapan, Bapak Wakil Ketua menyampaikan sebuah kalimat kepada Ibu Pendeta. "Saya juga penutur bahasa Matbat. Saya ingin mendengar Firman dalam bahasa saya. Mari kita bantu."

Kalimat itu bukan sebuah pidato. Bukan pula ajakan yang penuh tekanan. Itu adalah ungkapan kerinduan seorang penutur bahasa yang ingin mendengar Tuhan berbicara dalam bahasa ibunya sendiri. Dan Tuhan memakai kerinduan itu.

Perlahan, keraguan berubah menjadi dukungan. Jemaat mulai mengambil bagian sesuai kemampuan mereka, waktu, tenaga, dan hati demi terlaksananya lokakarya. 

Melalui proses ini, Tuhan kembali menunjukkan bahwa sebelum firman diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa, Ia terlebih dahulu menerjemahkan hati manusia, mengubah keraguan menjadi kerinduan, dan kerinduan menjadi kesediaan untuk melayani.